Bunga sedap malam

Besok Periksa Kandungan

Rasa tinggallah rasa

Pernahkah kalian bertemu dengan orang yang lemah, miskin, cacat, kekurangan, kaum fakir miskin, anak yatim, orang jompo yang terlantar…. Lalu apa yang kalian rasakan?... Mungkin iba, sedih, dan terharu… namun kebanyakan perasaan itu tinggallah perasaan, pernah kita merasa ingin membantu mereka, ingin membebaskan mereka dari derita. Namun sekali lagi banyak yang terealisasi, akhirnya rasa iba tinggallah perasaan… bukan awal dari setiap amal kita.

Pernah suatu hari aku bertemu dengan kakek-kakek yang usianya mungkin sudah lebih setengah abad, kakek itu… aku tak tau namanya, tapi setiap pagi dan sore beliau selalu lewat didepan rumah. Dengan rajinnya beliau berteriak-teriak memanggil konsumennya begini teriakannya “sapu…. Sapu… ayoo tuku sapuuu… resik… resik… umahe diresiki…”

Banyak yang iba dengan kakek itu, tapi sekali lagi, disaat itu tak ada yang bertindak, tak ada satu wargapun yang membeli sapu buatan beliau, dengan alasan sapu yang ada dirumah masih bagus, belum lecek, atau walaupun lecek tapi masih layak pakai. Suatu hari aku menunggunya didepan rumah sambil menerima telp dari pelanggan okrek.com aku menunggu sampai jam 4 sore… namun kakek itu tak juga lewat. Aku berfikir mungkin uang yang aku genggam ini bukan rezeki beliau. Akhirnya aku kembali kedalam rumah dan melakukan segala aktifitas saat itu.

Besoknya tanpa ditunggu-tunggu kakek itu lewat didepan rumahku, padahal aku masih banyak kerjaan, akhirnya gagal lagi aku membeli sapu produk kakek itu.

Begitulah sering sekali kita merasa iba, namun tak jarang kita hanya merasa iba, tanpa membantu mereka. Akhirnya rasa tinggallah rasa

Pernahkah kalian bertemu dengan orang yang lemah, miskin, cacat, kekurangan, kaum fakir miskin, anak yatim, orang jompo yang terlantar…. Lalu apa yang kalian rasakan?... Mungkin iba, sedih, dan terharu… namun kebanyakan perasaan itu tinggallah perasaan, pernah kita merasa ingin membantu mereka, ingin membebaskan mereka dari derita. Namun sekali lagi banyak yang terealisasi, akhirnya rasa iba tinggallah perasaan… bukan awal dari setiap amal kita. Pernah suatu hari aku bertemu dengan kakek-kakek yang usianya mungkin sudah lebih setengah abad, kakek itu… aku tak tau namanya, tapi setiap pagi dan sore beliau selalu lewat didepan rumah. Dengan rajinnya beliau berteriak-teriak memanggil konsumennya begini teriakannya “sapu…. Sapu… ayoo tuku sapuuu… resik… resik… umahe diresiki…” Banyak yang iba dengan kakek itu, tapi sekali lagi, disaat itu tak ada yang bertindak, tak ada satu wargapun yang membeli sapu buatan beliau, dengan alasan sapu yang ada dirumah masih bagus, belum lecek, atau walaupun lecek tapi masih layak pakai. Suatu hari aku menunggunya didepan rumah sambil menerima telp dari pelanggan okrek.com aku menunggu sampai jam 4 sore… namun kakek itu tak juga lewat. Aku berfikir mungkin uang yang aku genggam ini bukan rezeki beliau. Akhirnya aku kembali kedalam rumah dan melakukan segala aktifitas saat itu. Besoknya tanpa ditunggu-tunggu kakek itu lewat didepan rumahku, padahal aku masih banyak kerjaan, akhirnya gagal lagi aku membeli sapu produk kakek itu. Begitulah sering sekali kita merasa iba, namun tak jarang kita hanya merasa iba, tanpa membantu mereka. Akhirnya rasa tinggallah rasa

Ali dan Lia

Di workshop Okrek ada dua anak kecil umur 5 tahunan yang bernama Ali dan Lia. Mereka anak Mbak Hana seorang Manager produksi. Setiap hari Ali dan Lia selalu mengganggu kami semua, dari Mbak Ais (Kru produksi) sampai Pak Afandi (Owner sekaligus suamiku).

Ada-ada saja yang bisa mereka lakukan untuk meraih perhatian dari kami semua, suatu waktu mereka berdua naik mesin jahit, pasti kami semua takut kaki mereka bisa terluka oleh mesin jahit atau jarum-jarum pentul, suatu waktu mereka mengambil dan menyembunyikan beberapa kain yang sudah siap untuk dijahit, hingga kami semua serentak mencari kain itu diseluruh workshop.

Pernah suatu hari Ali dengan wajah isengnya mengambil penggaris kain Cak Pri. So pasti semua kru mengukur dan membuat pola waktu itu dengan menggunakan penggaris biasa. Sore harinya kami baru menemukan penggaris kain itu dibawah motor Mbak Hana.

Hmmm memang sejatinya mereka pengganggu, tapi kalau menurutku mereka hanyalah sepasang anak yang ingin mencari perhatian lebih dari semua kru di okrek.com

Kita jangan selalu melihat seorang anak dari satu sisi, Ali dan Lia pun punya beberapa sisi yang bisa ku lihat, di satu sisi mereka sangat… menjengkelkan, sisi yang lain mereka bisa meramaikan suasana, disisi satunya lagi mereka adalah anak-anak yang belum mengerti apa-apa, dan kewajiban kita untuk memperlihatkan kepada mereka mana yang benar dan mana yang salah. Sisi yang lainnya mungkin hanya ibu mereka yang lebih mengerti.

Sore ini mereka sedang tidur terlelap…. Di workshop Okrek.com

Bila anda mengunjungi kami… jangan kaget dengan tingkah mereka…

Karya : Ayuna (Di Workshop sore hari menunggu suami bersama Ali dan Lia)

Ali dan Lia Di workshop Okrek ada dua anak kecil umur 5 tahunan yang bernama Ali dan Lia. Mereka anak Mbak Hana seorang Manager produksi. Setiap hari Ali dan Lia selalu mengganggu kami semua, dari Mbak Ais (Kru produksi) sampai Pak Afandi (Owner sekaligus suamiku). Ada-ada saja yang bisa mereka lakukan untuk meraih perhatian dari kami semua, suatu waktu mereka berdua naik mesin jahit, pasti kami semua takut kaki mereka bisa terluka oleh mesin jahit atau jarum-jarum pentul, suatu waktu mereka mengambil dan menyembunyikan beberapa kain yang sudah siap untuk dijahit, hingga kami semua serentak mencari kain itu diseluruh workshop. Pernah suatu hari Ali dengan wajah isengnya mengambil penggaris kain Cak Pri. So pasti semua kru mengukur dan membuat pola waktu itu dengan menggunakan penggaris biasa. Sore harinya kami baru menemukan penggaris kain itu dibawah motor Mbak Hana. Hmmm memang sejatinya mereka pengganggu, tapi kalau menurutku mereka hanyalah sepasang anak yang ingin mencari perhatian lebih dari semua kru di okrek.com Kita jangan selalu melihat seorang anak dari satu sisi, Ali dan Lia pun punya beberapa sisi yang bisa ku lihat, di satu sisi mereka sangat… menjengkelkan, sisi yang lain mereka bisa meramaikan suasana, disisi satunya lagi mereka adalah anak-anak yang belum mengerti apa-apa, dan kewajiban kita untuk memperlihatkan kepada mereka mana yang benar dan mana yang salah. Sisi yang lainnya mungkin hanya ibu mereka yang lebih mengerti. Sore ini mereka sedang tidur terlelap…. Di workshop Okrek.com Bila anda mengunjungi kami… jangan kaget dengan tingkah mereka… Karya : Ayuna (Di Workshop sore hari menunggu suami bersama Ali dan Lia)

Riwuk... Cipluk... Mbah Ti...

Anak-anak generasi penerus okrek.comRiwuk….

Dekat dengan hutan ada sebuah rumah yang dikelilingi pohon mangga yang lebat, rumah itu sederhana namun bersih. Didalamnya terdengar suara rebut-ribut dari dalam.

“Mbah…. Riwuk nakal tenan… Riwuk… mbah…. “ teriak anak kecil yang sedang berlari-lari ketakutan dikejar teman sebayanya yang sedang memakai topeng Barong.

“Wuk…. Ojo… ganggu Cipluk wae too… keneh karo mbah…. Wes wes mari dulinane” tegur si mbah… Tubuhnya yang rapuh sedang tekun menjahit dengan pelan.

Tak mendengar teguran si Mbah.. Riwuk dan Cipluk malah tambah semakin rIbut. Berlari kesana kemari, tertawa terkadang menangis karena pertengkaran anak kecil.

Si mbah masih saja menjahit, jenuh melihat yang dilakukan kedua cucunya, si Mbah lalu mengajak mereka menemaninya bekerja

“Nduuuk… rene nduuuk… lungguh-o tak ajari njahit…”

“nggeh mbah ti…”

“Ndhelok en yoo cah ayu… iki jenenge dhom…. Iki jenenge benang… loro-loro ne isok… ngawe kelambi seng apik tenan… “

“Nggeh… mbah…”

Riwuk dan Cipluk akhirnya menikmati bagaimana Mbak Putri mereka bekerja. Jahit sana jahit sini,

“mene… nek wes gedhe awakmu ape dadi opo nduk…?” Tanya mbah ti mereka.

“Aku dhadi koyok mbah ae…. Iso nggawe klambi apik…”

Karya : Ayuna ( Tanggal 5 Maret hari jum'at dikala menemani para kru okrek

yang sedang sibuk menjahit pesanan)